KKM 53 UNIBA Manfaatkan Limbah Kelapa sebagai Bahan Baku Arang Briket di Desa Tanjungsari

 

Serang - Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 53 Universitas Bina Bangsa (UNIBA) menginisiasi program pemanfaatan limbah tempurung kelapa menjadi arang briket sebagai salah satu program kerja unggulan selama pengabdian di Desa Tanjungsari. Program ini digagas sebagai upaya menjawab persoalan limbah sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat setempat.

Desa Tanjungsari dikenal sebagai desa dengan hasil bumi yang melimpah, di antaranya kelapa, pisang, dan emping. Ketiga komoditas ini menjadi sumber penghidupan sebagian besar warga, baik dikonsumsi sendiri maupun diolah menjadi produk seperti emping melinjo dan olahan pisang. Namun di balik melimpahnya hasil kelapa, tersimpan potensi yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal, yaitu limbah tempurung kelapa yang biasanya hanya dibuang atau dibakar begitu saja tanpa nilai tambah.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKM 53 UNIBA mengajak masyarakat untuk melihat limbah bukan sebagai masalah, melainkan sebagai peluang usaha. Arang briket dipilih sebagai solusi karena proses pembuatannya tergolong sederhana, bahan bakunya melimpah di sekitar desa, serta permintaan pasarnya terus meningkat, baik di dalam negeri maupun untuk kebutuhan ekspor.

Arang briket merupakan bahan bakar padat yang dibuat dari arang hasil pembakaran bahan organik dengan kadar oksigen terbatas, kemudian dihaluskan, dicampur bahan perekat seperti tepung kanji/tapioka, dicetak, dan dikeringkan. Dibandingkan arang biasa, briket memiliki bentuk yang lebih rapi, daya bakar lebih lama, asap lebih sedikit, serta nilai kalor yang lebih tinggi dan stabil. Produk ini umum digunakan sebagai bahan bakar memasak rumah tangga, kebutuhan usaha kuliner bakar-bakaran, hingga bahan baku shisha yang banyak diminati pasar luar negeri seperti Timur Tengah, Eropa, dan Korea.

Tempurung kelapa dipilih sebagai bahan baku utama karena dikenal menghasilkan bara yang tahan lama, panas yang stabil, dan asap yang minim dibandingkan bahan lain seperti kayu atau sekam padi. Karakteristik ini membuat arang briket berbahan tempurung kelapa memiliki nilai jual yang tinggi di pasaran.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan bersama warga, mahasiswa KKM 53 UNIBA memperkenalkan tahapan pembuatan arang briket mulai dari karbonisasi atau pembakaran tempurung kelapa dalam drum tertutup, penghalusan arang menjadi serbuk, pencampuran dengan perekat alami seperti tepung kanji, pencetakan menggunakan cetakan sederhana, hingga proses pengeringan dan pengemasan agar briket siap dipasarkan.

Mahasiswa KKM 53 berharap inovasi ini dapat memberikan sejumlah manfaat nyata bagi warga Desa Tanjungsari, di antaranya:

• Mengurangi penumpukan limbah tempurung kelapa yang selama ini terbuang percuma.

• Menyediakan bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis.

• Membuka peluang usaha baru bagi masyarakat maupun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) melalui produksi dan penjualan briket.

• Meningkatkan kesadaran warga akan pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga dan hasil perkebunan.

Melalui program ini, KKM 53 UNIBA berharap masyarakat Desa Tanjungsari dapat melanjutkan dan mengembangkan produksi arang briket secara mandiri dan berkelanjutan, sehingga limbah tempurung kelapa yang melimpah di desa tersebut dapat memberikan dampak ekonomi dan lingkungan yang lebih besar bagi warga.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url