KKM 53 UNIBA Resmikan Rocket Stove, Inovasi Baru Pengelolaan Sampah di Desa Tanjungsari
Desa Tanjungsari, Kabupaten Serang — Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 53 Universitas Bina Bangsa (UNIBA) menghadirkan inovasi baru dalam pengelolaan sampah di Desa Tanjungsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, melalui pembuatan rocket stove sebagai alternatif pembakaran sampah yang lebih terarah.
Inovasi tersebut dibuat selama dua hari, yakni pada 5–6 Agustus 2026, dan kemudian diresmikan pada 12 Agustus 2026 bersama Kepala Desa Tanjungsari Zaenal Arifin dan Sekretaris Desa. Program ini menjadi salah satu bentuk kepedulian mahasiswa KKM 53 terhadap persoalan pengelolaan sampah di lingkungan masyarakat.
Berawal dari Kondisi Pengelolaan Sampah di Desa
Sebelum adanya program ini, Desa Tanjungsari belum memiliki fasilitas berupa rocket stove untuk mendukung pengelolaan sampah. Sementara itu, sebagian masyarakat masih mengelola sampah rumah tangga dengan cara dibakar secara terbuka di halaman rumah atau lahan sekitar.
Cara tersebut memang dianggap praktis untuk mengurangi tumpukan sampah. Namun, pembakaran secara terbuka dapat menghasilkan asap yang cukup banyak dan berpotensi mengganggu lingkungan sekitar.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKM 53 UNIBA mencoba menghadirkan alternatif sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan desa. Dari situlah muncul gagasan untuk membuat rocket stove sebagai salah satu inovasi pengelolaan sampah.
Wakil Ketua KKM 53 UNIBA, Hafidz Hidayatullah, mengatakan bahwa gagasan tersebut berangkat dari kondisi yang ditemukan mahasiswa selama menjalankan kegiatan KKM di Desa Tanjungsari.
“Sebelumnya di Desa Tanjungsari belum ada rocket stove seperti ini. Kami melihat masih ada masyarakat yang membakar sampah secara terbuka, sehingga kami mencoba menghadirkan inovasi yang sederhana dan bisa menjadi contoh untuk pengelolaan sampah di desa,” ujar Hafidz.
Menurut Hafidz, pembuatan rocket stove juga tidak berdiri sendiri. Mahasiswa sengaja membuat tempat pengumpulan sampah di samping rocket stove agar masyarakat tidak hanya memiliki fasilitas untuk pembakaran, tetapi juga memiliki tempat untuk mengumpulkan sampah terlebih dahulu.
“Kami tidak hanya membuat rocket stove, tetapi di sampingnya juga kami buat tempat pengumpulan sampah untuk warga. Harapannya, masyarakat bisa mulai membiasakan diri mengumpulkan dan mengelola sampah dengan lebih teratur, tidak langsung membakarnya sembarangan,” katanya.
Dua Hari Membangun Inovasi Baru
Proses pembuatan rocket stove dilakukan selama dua hari, mulai 5 hingga 6 Agustus 2026. Mahasiswa KKM 53 terlibat langsung dalam proses pembuatan, mulai dari menyiapkan bahan, merancang bagian-bagian alat, hingga menyelesaikan bentuk akhir rocket stove.
Pembuatan dilakukan dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masyarakat Desa Tanjungsari. Tujuannya bukan hanya menghasilkan sebuah alat, tetapi juga menciptakan fasilitas yang nantinya dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh warga.
Rocket stove dirancang dengan ruang pembakaran yang lebih terarah sehingga proses pembakaran dapat berlangsung secara lebih efisien dibandingkan pembakaran sampah secara terbuka.
Bagi mahasiswa KKM 53, kehadiran rocket stove ini menjadi sesuatu yang baru bagi Desa Tanjungsari. Sebelumnya, fasilitas serupa belum tersedia di desa sehingga program ini diharapkan dapat menjadi contoh awal bagi pengembangan pengelolaan sampah yang lebih tertata.
Tidak Berhenti di Rocket Stove
Inovasi yang dibuat KKM 53 tidak hanya berupa rocket stove. Di samping alat tersebut, mahasiswa juga membuat tempat pengumpulan sampah yang dapat digunakan oleh warga.
Fasilitas ini dibuat agar masyarakat memiliki tempat untuk mengumpulkan sampah sebelum dilakukan proses pengelolaan lebih lanjut. Dengan begitu, program ini tidak hanya berfokus pada proses pembakaran, tetapi juga mencoba membangun kebiasaan masyarakat untuk mengelola sampah secara lebih teratur.
Hafidz mengatakan, keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal yang bisa dilanjutkan oleh masyarakat setelah mahasiswa menyelesaikan masa KKM.
“Kami berharap program ini tidak berhenti ketika KKM 53 selesai. Justru kami ingin fasilitas yang sudah dibuat bisa dimanfaatkan dan dirawat oleh masyarakat. Kalau memang cocok dan memberikan manfaat, semoga bisa dikembangkan lebih luas oleh pemerintah desa,” tutur Hafidz.
Mendapat Sambutan Positif Kepala Desa
Setelah proses pembuatannya selesai, rocket stove kemudian diresmikan pada 12 Agustus 2026. Peresmian dilakukan bersama Kepala Desa Tanjungsari Zaenal Arifin, Sekretaris Desa, serta mahasiswa KKM 53 UNIBA.
Kepala Desa Tanjungsari Zaenal Arifin menyambut baik inovasi yang dibuat mahasiswa. Menurutnya, keberadaan rocket stove dapat menjadi salah satu alternatif dalam membantu masyarakat mengelola sampah di lingkungan desa.
“Kami dari Pemerintah Desa Tanjungsari menyambut baik program yang dibuat oleh KKM 53 ini. Ini merupakan inovasi baru bagi desa, khususnya dalam pengelolaan sampah,” ujar Zaenal.
Zaenal juga melihat adanya peluang agar program tersebut tidak hanya menjadi fasilitas percontohan di satu lokasi. Jika dalam penerapannya dinilai tepat dan mendapat respons positif dari masyarakat, pemerintah desa membuka kemungkinan untuk mengembangkan fasilitas serupa di wilayah lain.
“Kalau program ini memang tepat dan bisa memberikan manfaat untuk masyarakat, insyaallah ke depannya bisa kita kembangkan. Bahkan, kalau memungkinkan, kita akan coba membangun seperti ini di setiap RT,” katanya.
Menurut Zaenal, keberlanjutan program tentu membutuhkan kerja sama antara pemerintah desa dan masyarakat. Fasilitas yang telah dibuat mahasiswa perlu dimanfaatkan dan dirawat agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Yang paling penting bukan hanya pembangunannya, tetapi bagaimana masyarakat bisa menggunakan dan menjaga fasilitas ini. Kami berharap masyarakat ikut mendukung dan memanfaatkan inovasi yang sudah dibuat,” lanjutnya.
Dari Program KKM Menjadi Potensi Program Desa
Dukungan dari Pemerintah Desa Tanjungsari menjadi bagian penting dalam keberlanjutan program tersebut. Persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab mahasiswa selama menjalankan KKM, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat dan pemerintah desa secara bersama-sama.
Melalui rocket stove dan tempat pengumpulan sampah ini, KKM 53 UNIBA ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana dan lingkungan terdekat.
Program ini juga menjadi bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah tidak hanya berhenti dalam bentuk teori, tetapi diterapkan melalui inovasi yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan desa.
Bagi Hafidz, keberhasilan program tersebut nantinya tidak hanya dilihat dari berdirinya rocket stove, tetapi dari seberapa jauh masyarakat mau memanfaatkannya.
“Ukuran keberhasilan program ini bukan hanya alatnya sudah berdiri. Yang paling penting adalah masyarakat mau menggunakan, menjaga, dan kalau bisa ikut mengembangkan. Jadi, setelah kami selesai KKM, program ini tetap bisa berjalan,” kata Hafidz.
Sementara itu, Zaenal berharap inovasi yang dibawa mahasiswa dapat memberikan dampak positif dan menjadi contoh bagi masyarakat.
“Kami berharap apa yang sudah dilakukan mahasiswa KKM 53 ini bisa memberikan manfaat untuk Desa Tanjungsari. Mudah-mudahan ini menjadi awal yang baik dan bisa terus dikembangkan,” ujar Zaenal.
Dengan demikian, keberadaan rocket stove di Desa Tanjungsari bukan sekadar fasilitas baru yang dibuat mahasiswa selama KKM. Lebih dari itu, program ini menjadi titik awal untuk mendorong pengelolaan sampah yang lebih terarah sekaligus membuka peluang kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat.
Dari dua hari proses pembuatan pada 5–6 Agustus 2026 hingga peresmian pada 12 Agustus 2026, rocket stove KKM 53 UNIBA diharapkan tidak berhenti sebagai program mahasiswa, tetapi dapat menjadi inovasi yang terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat Desa Tanjungsari.
