Bekali Warga Hadapi Situasi Darurat, KKM 53 UNIBA Gelar Workshop First Aid di Desa Tanjungsari

Dokumentasi Workshop First Aid KKM 53 UNIBA bersama PMI, Pemerintah Desa Tanjungsari, dan masyarakat sebagai bentuk edukasi pertolongan pertama sesuai standar medis.

SERANG – Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pertolongan pertama pada korban kecelakaan maupun cedera ringan masih perlu terus ditingkatkan. Berbagai mitos yang berkembang di tengah masyarakat, seperti penggunaan odol, kecap, atau bahan tertentu untuk mengobati luka bakar, masih kerap dijumpai dan berpotensi memperparah kondisi korban.

Berangkat dari kondisi tersebut, Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 53 Universitas Bina Bangsa (UNIBA) Tahun 2026 menyelenggarakan Workshop First Aid di Aula Desa Tanjungsari sebagai upaya meningkatkan literasi kesehatan masyarakat mengenai penanganan pertama pada kondisi darurat.

Kegiatan ini menghadirkan anggota Palang Merah Indonesia (PMI), Delly Maulana Firmansyah, sebagai narasumber. Workshop diikuti oleh perangkat desa, kader masyarakat, pemuda, serta warga Desa Tanjungsari yang antusias mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari penyampaian materi hingga praktik langsung pertolongan pertama.

Ketua KKM 53 UNIBA menjelaskan bahwa program tersebut disusun setelah mahasiswa melihat masih banyak masyarakat yang memiliki pemahaman kurang tepat mengenai pertolongan pertama. Kesalahan penanganan yang didasarkan pada kebiasaan turun-temurun dikhawatirkan justru dapat memperburuk kondisi korban sebelum mendapatkan bantuan medis.

Selama workshop berlangsung, peserta memperoleh materi mengenai prinsip dasar pertolongan pertama pada berbagai kondisi, seperti penanganan luka terbuka, luka bakar, mimisan, tersedak, hingga tindakan awal ketika menemukan korban tidak sadarkan diri. Selain penyampaian teori, peserta juga diajak mempraktikkan teknik pembalutan luka, penghentian perdarahan ringan, serta prosedur penanganan awal sebelum korban dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Dalam pemaparannya, Delly Maulana Firmansyah menegaskan bahwa tindakan pertama yang diberikan kepada korban sering kali menjadi faktor penting yang menentukan kondisi korban selanjutnya. Oleh karena itu, masyarakat perlu membekali diri dengan pengetahuan yang benar berdasarkan standar medis, bukan hanya mengandalkan informasi atau kebiasaan yang berkembang di lingkungan sekitar.

Salah satu materi yang paling menarik perhatian peserta adalah pelurusan mitos mengenai penanganan luka bakar. Delly menjelaskan bahwa penggunaan odol, kecap, maupun bahan lainnya tidak dianjurkan karena dapat memperparah kondisi luka dan meningkatkan risiko infeksi. Penanganan yang tepat adalah segera mendinginkan area luka menggunakan air bersih yang mengalir selama sekitar 20 menit, kemudian menutupnya dengan kain atau perban steril apabila diperlukan sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Workshop berlangsung secara interaktif. Peserta tampak aktif menyimak setiap demonstrasi, mengajukan berbagai pertanyaan, serta mencoba secara langsung teknik-teknik pertolongan pertama yang diperagakan oleh narasumber. Antusiasme tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk memperoleh pengetahuan kesehatan yang praktis dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi masyarakat, kegiatan ini memberikan pengalaman baru sekaligus meningkatkan rasa percaya diri dalam menghadapi situasi darurat. Selama ini, sebagian warga mengaku hanya mengetahui cara penanganan luka berdasarkan kebiasaan yang berkembang di lingkungan sekitar tanpa memahami apakah tindakan tersebut sesuai dengan standar medis. Melalui workshop ini, mereka memperoleh pemahaman bahwa tindakan sederhana yang dilakukan dengan benar dapat membantu mengurangi risiko cedera yang lebih serius sebelum korban mendapatkan penanganan tenaga kesehatan.

Warga juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkala dengan materi yang lebih beragam. Menurut mereka, edukasi mengenai pertolongan pertama tidak hanya bermanfaat bagi individu, tetapi juga menjadi bekal penting bagi seluruh masyarakat untuk saling membantu ketika terjadi keadaan darurat. Semakin banyak warga yang memahami prosedur pertolongan pertama yang benar, semakin besar pula peluang keselamatan korban sebelum memperoleh penanganan medis.

Pemerintah Desa Tanjungsari turut mengapresiasi pelaksanaan Workshop First Aid yang dinilai sebagai inovasi dalam program pengabdian mahasiswa. Edukasi kesehatan seperti ini diharapkan mampu membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya pertolongan pertama yang tepat sekaligus mengurangi praktik-praktik penanganan yang tidak sesuai dengan kaidah medis.

Melalui kolaborasi antara KKM 53 UNIBA, Palang Merah Indonesia (PMI), Pemerintah Desa Tanjungsari, dan masyarakat, kegiatan ini menjadi bukti bahwa pengabdian mahasiswa tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Dengan bekal pengetahuan yang diperoleh, masyarakat diharapkan semakin siap menghadapi situasi darurat serta mampu memberikan pertolongan pertama secara cepat, tepat, dan aman guna meminimalkan risiko yang dapat membahayakan korban.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url