Kampus atau Ruang Aman? Mahasiswa Pertanyakan Kembalinya Dosen yang Pernah Terseret Kasus Pelecehan Verbal di UNIBA
![]() |
| Esa Fajriansyah Koordinator umum SMU |
Kembalinya seorang dosen yang sebelumnya pernah terseret dalam kasus dugaan pelecehan seksual verbal di lingkungan Universitas Bina Bangsa (UNIBA) kembali memunculkan kegelisahan di kalangan mahasiswa.
Kasus yang mencuat pada tahun 2025 lalu sempat menjadi
perhatian publik kampus setelah seorang mahasiswi mengaku menerima ucapan
bernada seksual dari oknum dosen tersebut. Dalam pengakuannya, korban menyebut
adanya komentar yang mengolok tubuhnya serta pertanyaan yang bersifat personal
dan tidak pantas dalam relasi akademik antara dosen dan mahasiswa.
Peristiwa tersebut bahkan sempat memicu aksi demonstrasi
mahasiswa yang menuntut agar pihak kampus mengambil langkah tegas demi menjaga
keamanan serta martabat mahasiswa di ruang akademik.
Koordinator Umum Solidaritas Mahasiswa UNIBA (SMU), Esa
Fajriansyah, menilai bahwa persoalan ini tidak semata-mata soal konflik
personal yang pernah terjadi di masa lalu, tetapi menyangkut tanggung jawab
institusi pendidikan dalam menjamin ruang akademik yang aman.
“Persoalan ini bukan lagi sekadar soal individu yang pernah
terlibat kasus dengan korban. Yang menjadi pertanyaan mahasiswa hari ini adalah
bagaimana sikap institusi kampus. Kampus seharusnya menjadi ruang aman bagi
mahasiswa,” ujar Esa Fajriansyah.
Ia menjelaskan bahwa meskipun secara hukum perkara tersebut
telah selesai setelah laporan korban dicabut, kegelisahan mahasiswa tetap
muncul ketika beredar informasi bahwa dosen yang sebelumnya terseret dalam
kasus tersebut kembali menjalankan aktivitas mengajar di lingkungan kampus.
“Ketika muncul informasi bahwa seseorang yang pernah
terseret kasus pelecehan kembali mengajar, wajar jika mahasiswa mempertanyakan
komitmen kampus terhadap perlindungan mahasiswa,” lanjutnya.
Menurut Esa, reputasi sebuah universitas tidak hanya
ditentukan oleh kualitas akademik, tetapi juga oleh bagaimana institusi
tersebut bersikap dalam menghadapi persoalan yang menyangkut etika dan relasi
kuasa di lingkungan akademik.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa tidak sedang berupaya membuka
kembali konflik masa lalu, melainkan mendorong transparansi dan kejelasan sikap
dari pihak universitas.
“Mahasiswa tidak sedang menghidupkan kembali konflik masa
lalu. Yang kami dorong adalah kejelasan sikap institusi. Kampus perlu
memberikan penjelasan yang transparan agar kepercayaan mahasiswa terhadap
lingkungan akademik tetap terjaga,” tegasnya.
Bagi Solidaritas Mahasiswa UNIBA, kasus pelecehan bahkan
yang bersifat verbal tidak dapat dipandang sebagai persoalan sepele. Hal
tersebut berkaitan erat dengan budaya akademik, relasi antara dosen dan
mahasiswa, serta tanggung jawab kampus dalam melindungi civitas akademika.
Karena itu, Esa menilai bahwa keterbukaan dari pihak kampus
menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan mahasiswa.
“Kampus bukan sekadar tempat berlangsungnya perkuliahan. Ia
adalah ruang pembentukan nilai, etika, dan karakter generasi muda. Karena itu,
ketika kampus dihadapkan pada persoalan seperti ini, yang dipertaruhkan bukan
hanya reputasi individu, tetapi juga integritas institusi itu sendiri,”
tutupnya.
