Prihatin Akses Listrik di Kabupaten Belu Belum Merata, Masyarakat Keluhkan Pembiaran Bertahun-tahun
BELU, Elemendemokrasi.com — Ketimpangan pembangunan infrastruktur dasar masih dirasakan masyarakat di wilayah perbatasan Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hingga saat ini, empat dusun yang berada di dua desa di Kecamatan Lamaknen Selatan dilaporkan belum pernah menikmati aliran listrik sejak tahun 2008, meski wilayah tersebut berbatasan langsung dengan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL).
Empat dusun dimaksud yakni Dusun Aimuti dan Dusun Fumoku di Desa Sisi Fatuberal, serta Dusun Foho Lulik dan Dusun Haulata di Desa Lutharato. Di Desa Sisi Fatuberal, dua dusun tersebut dihuni 62 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 276 jiwa.
Sementara di Desa Lutharato, dua dusun lainnya dihuni 105 kepala keluarga dengan total 377 jiwa. Hingga kini, seluruh warga di empat dusun tersebut masih hidup tanpa penerangan listrik.
Kondisi ini dinilai sangat memprihatinkan karena listrik merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting untuk menunjang kehidupan masyarakat, mulai dari aktivitas rumah tangga, pendidikan anak-anak, pengembangan ekonomi warga, hingga pelayanan publik.
Ironisnya, di wilayah tersebut telah tersedia berbagai fasilitas umum seperti sekolah, PAUD, kapela, posyandu, hingga pos perbatasan RDTL, namun semuanya beroperasi secara terbatas akibat ketiadaan listrik.
Masyarakat setempat mengaku telah bertahun-tahun menerima janji tanpa realisasi. Pemerintah disebut beberapa kali melakukan survei lapangan, namun hingga kini belum ada tindak lanjut berupa pembangunan jaringan listrik.
Proposal yang diajukan masyarakat bersama pemerintah desa kepada Pemerintah Kabupaten Belu dan instansi teknis terkait pun tidak pernah membuahkan hasil.
Kepala Dusun Fumoku, Agustinus Hale (29), mengungkapkan kekecewaannya atas kondisi tersebut. Ia mengatakan bahwa sejak desa dimekarkan hingga dirinya berkeluarga, masyarakat belum pernah merasakan listrik sama sekali.
“Sejak kami lahir, desa ini mekar, sampai kami sudah berkeluarga pun belum pernah merasakan listrik. Yang kami rasakan hanya janji di atas janji tanpa realisasi nyata,” ujarnya kepada Infotimur.id, Rabu (5/2/2026).
Menurut Agustinus yang akrab disapa Gusti Hale, masyarakat kini berada pada titik putus asa karena upaya pengajuan proposal yang dilakukan pemerintah desa dari tahun ke tahun selalu berakhir tanpa kejelasan.
Padahal, kehadiran listrik sangat dibutuhkan untuk menunjang perekonomian masyarakat, seperti usaha kios, pertanian, dan peternakan, serta mendukung aktivitas pelayanan publik di Dusun Aimuti dan Dusun Fumoku.
Keluhan serupa disampaikan Wilhelmus Hale (54), perwakilan masyarakat Dusun Foho Lulik dan Dusun Haulata, Desa Lutharato. Ia mengatakan bahwa meskipun Indonesia telah merdeka sejak 1945, masyarakat di dua dusun tersebut seolah belum sepenuhnya merasakan kemerdekaan karena belum menikmati akses listrik.
“Indonesia merdeka sejak 1945, tapi kami dua dusun ini seolah belum merdeka karena sampai hari ini belum ada listrik,” ungkapnya.
Dalam situasi tertentu seperti kedukaan, lanjut Wilhelmus, masyarakat terpaksa menggunakan lampu pelita sebagai sumber penerangan. Jika memiliki biaya lebih, barulah mereka menyewa genset.
Ia pun mengaku sangat kecewa terhadap Pemerintah Kabupaten Belu karena setiap permintaan bantuan listrik hanya dibalas dengan janji dan survei tanpa realisasi nyata.
“Wilayah kami berbatasan langsung dengan Timor Leste, tetapi sampai sekarang belum ada perhatian serius. Desa lain sudah terang, anak-anak bisa belajar dengan nyaman, sementara kami masih duduk dalam kegelapan setiap malam,” pungkasnya.
