Aliansi Mahasiswa Pemuda Menggugat Gelar Aksi Peringati Sumpah Pemuda ke-97 di Depan DPRD TTU
Kefamenanu, Elemendemokrasi.com 28 Oktober 2025 — Suasana depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, tampak ramai pada Senin (28/10/2025) pagi.
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pemuda Menggugat turun ke jalan untuk memperingati 97 tahun Hari Sumpah Pemuda dengan menggelar mimbar bebas dan orasi kebangsaan.
Aliansi tersebut terdiri dari dua organisasi mahasiswa, yakni Eksekutif Kabupaten Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EK LMND TTU) dan Eksekutif Kabupaten Liga Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (EK LMID TTU).
Dengan membawa spanduk dan poster bertuliskan seruan perubahan, para mahasiswa menyuarakan keresahan mereka terhadap berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang tengah melanda daerah maupun nasional.
Dalam aksi tersebut, para mahasiswa menyampaikan tiga tuntutan utama. Pertama, mendesak agar pemerintah daerah segera melunasi upah buruh Tekun Melani Plus di Kelurahan Sasi yang hingga kini belum dibayarkan.
Kedua, meminta DPRD TTU segera menindaklanjuti aktivitas tambang galian C di Kecamatan Noemuti yang dinilai merusak lingkungan dan merugikan masyarakat sekitar.
Ketiga, mereka mengajak publik untuk menilai secara kritis satu tahun kepemimpinan nasional Prabowo–Gibran, terutama dalam kebijakan yang dinilai belum menyentuh kepentingan rakyat kecil.
Menurut para peserta aksi, peringatan Hari Sumpah Pemuda bukan sekadar seremoni tahunan atau ajang mengenang sejarah, tetapi harus menjadi momen refleksi dan evaluasi terhadap kondisi bangsa saat ini.
Mereka mengangkat tema “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Maju”, sebagai bentuk penegasan bahwa semangat pemuda tidak boleh padam dalam memperjuangkan keadilan dan kedaulatan rakyat.
Salah satu orator dalam aksi tersebut menegaskan bahwa semangat perjuangan pemuda masa lalu harus diterjemahkan ke dalam konteks zaman sekarang.
“Jika dulu pemuda berjuang melawan penjajahan Belanda dan Jepang, maka hari ini kita harus melawan bentuk penjajahan modern seperti kapitalisme, neoliberalisme, dan oligarki yang merampas sumber daya bangsa,” ujarnya dengan lantang.
Para mahasiswa menilai bahwa Indonesia tengah menghadapi ancaman serius berupa eksploitasi sumber daya alam dan manusia secara besar-besaran oleh kepentingan korporasi dan elite politik.
Sistem ekonomi yang tidak berpihak kepada rakyat, birokrasi yang korup, serta ketimpangan sosial yang makin melebar dianggap sebagai bentuk penjajahan baru yang harus dilawan bersama.
Koordinator lapangan aksi, Bondan Da Crus, dalam orasinya menegaskan bahwa memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97 tidak cukup hanya dengan ucapan atau seremoni simbolik.
“Dalam memperingati Hari Raya Sumpah Pemuda ke-97, kami tidak hanya berbicara, tetapi bertindak nyata untuk mengenang perjuangan para pemuda yang telah berjuang memerdekakan bangsa ini,” kata Bondan di tengah kerumunan massa aksi.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran pemuda sebagai kekuatan moral dan sosial dalam mengawal perubahan. Menurutnya, pemuda tidak boleh apatis terhadap persoalan yang terjadi di sekitar mereka, terutama yang menyangkut kepentingan kelompok lemah.
“Pemuda tidak boleh apatis terhadap persoalan yang terjadi, khususnya terhadap nasib buruh, petani, nelayan, mahasiswa, dan kaum miskin kota. Kita harus terus berpihak kepada mereka,” pungkas Bondan.
Aksi tersebut berlangsung damai dengan pengawalan aparat kepolisian setempat. Sejumlah orasi dilakukan secara bergantian oleh perwakilan masing-masing organisasi.
Massa aksi juga membacakan puisi dan menyanyikan lagu perjuangan sebagai simbol semangat kebersamaan dan perlawanan terhadap ketidakadilan.
Menjelang sore, massa aksi membubarkan diri dengan tertib setelah menyampaikan pernyataan sikap kepada perwakilan DPRD TTU.
Mereka berharap agar pemerintah daerah benar-benar menindaklanjuti tuntutan yang disampaikan dan tidak mengabaikan suara rakyat, khususnya kaum muda yang peduli terhadap keadilan sosial dan masa depan bangsa.
Bagi Aliansi Mahasiswa Pemuda Menggugat, Sumpah Pemuda bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga manifesto perjuangan untuk terus memperjuangkan kemerdekaan sejati — kemerdekaan dari ketidakadilan, penindasan, dan eksploitasi dalam segala bentuknya.
