Budaya Patronase dan Senioritas dalam Organisasi Mahasiswa sebagai Warisan Feodalisme
![]() |
| Visual ini di buat menggunakan Gemini yang menggambarkan tentang isi tulisan ini |
Ketika orang mendengar kata feodalisme, kebanyakan membayangkan kerajaan kuno: raja berkuasa penuh, bangsawan yang merasa istimewa, rakyat yang hanya bisa patuh. Padahal inti feodalisme bukan soal singgasana dan mahkota, tetapi soal relasi kekuasaan yang membuat sebagian orang merasa berhak memerintah, dan sebagian lainnya dipaksa tunduk tanpa bertanya. Esensinya sederhana: kekuasaan dilihat sebagai hak untuk ditaati, bukan tanggung jawab untuk melayani.
Di masa lalu, feodalisme tumbuh dari persoalan tanah: siapa menguasai tanah, menguasai hidup manusia. Lama-kelamaan pola itu berubah menjadi budaya: yang kuat dianggap selalu benar, yang lemah harus diam. Tidak perlu kerajaan untuk mempertahankannya, cukup karakter, tradisi, dan kebiasaan tunduk.
Hari ini, Indonesia tidak lagi diperintah raja, tetapi pola feodal masih bernafas dalam banyak ruang sosial: dalam politik, birokrasi, organisasi, bahkan lingkungan pendidikan. Feodalisme modern bukan tentang mahkota, melainkan tentang mentalitas kekuasaan.
Dan di titik inilah refleksi menjadi sangat dekat, budaya feodal itu juga hidup dalam Himpunan dan UKM kampus.
Organisasi mahasiswa yang seharusnya menjadi ruang ekspresi, dialektika, dan pendidikan karakter justru sering berubah menjadi miniatur kerajaan kecil. Pendidikan organisasi bukan lagi proses kesadaran, melainkan proses penundukan. Arahan berubah menjadi perintah. Diskusi berubah menjadi intimidasi. “Ikuti korlap!” “Tidak boleh bantah!” “Yang baru jangan banyak ngomong!”, seakan organisasi dibangun bukan untuk melahirkan pemimpin baru, tetapi untuk menambah pengikut baru.
Lebih menyakitkan lagi ketika senioritas berubah menjadi dogma. Alumni dianggap pemilik kebenaran mutlak. Ucapannya wajib diterima, bukan dipikirkan. Kritik dianggap kurang ajar, padahal kritik adalah vitamin demokrasi. Banyak mahasiswa belajar teori demokrasi di kelas, tetapi mempraktikkan feodalisme dalam organisasinya sendiri.
Paradoks lahir dengan jelas: bagaimana mungkin mahasiswa ingin memperbaiki bangsa, jika di ruang organisasinya sendiri budaya feodal dibiarkan tumbuh?
Jika organisasi hanya mengajarkan kepatuhan, maka yang dilahirkan bukan pemimpin, melainkan calon penguasa yang siap mengulangi penindasan yang sama ketika mendapat jabatan kelak. Itulah mengapa kita melihat banyak pejabat negara berubah menjadi otoriter begitu berkuasa, mereka bukan tiba-tiba berubah, mereka hanya meniru apa yang dibiasakan sejak mahasiswa.
Feodalisme bertahan bukan karena kuat, tetapi karena kita takut mengakhirinya. Kita terbiasa menghormati senior lebih daripada kebenaran. Kita lebih nyaman diam daripada bertanya. Kita bangga menjadi “yang loyal”, tetapi lupa menjadi “yang berpikir”.
Organisasi ideal bukan tempat manusia direndahkan untuk dibentuk, tetapi tempat manusia dikuatkan untuk tumbuh. Senior bukan raja, junior bukan prajurit. Kekuasaan bukan privilese, melainkan amanah. Pendidikan organisasi yang sehat bukan bersumber dari tekanan, melainkan kesadaran; bukan dari ketakutan, melainkan dialog.
Mungkin inilah pertarungan paling awal bagi generasi muda, bukan memberontak cuma di jalanan, tetapi juga memberontak melawan budaya tunduk yang hidup di dalam dirinya sendiri.
Feodalisme tidak akan hilang dengan sendirinya.Ia hilang ketika mahasiswa berani berkata: kita bukan pengikut, kita warga berpikir.
Ketika organisasi bukan tempat menundukkan manusia, tetapi tempat membebaskan pikiran dan harga diri.
Perubahan bangsa tidak selalu dimulai dari pemilu atau revolusi besar.
Kadang dimulai dari ruang kecil bernama organisasi mahasiswa, ketika anak muda menolak tunduk pada budaya feodal, dan memilih berdiri sebagai manusia merdeka. Di situlah sejarah baru benar-benar dimulai.
